BIOGRAFI BELIAU :
Masa Kanak-kanak dan Remaja
| Di usia tiga tahun, ia ditinggal wafat ayahnya, lalu dibesarkan oleh kehidupan yang penuh keprihatinan. Tak lama kemudian, ia diasuh oleh bibinya, Supartinah dan pamannya Mohammad Arup, orang Betawi di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. Arup bekerja di Departemen Keuangan dan belum memiliki anak. Allah maha mengetahui harapan hambanya ini. Hamba yang selalu berdoa memohon kehadiran seorang anak do?anya dikabulkan Tuhan. Rupanya, kehadiran Gogon dalam rumah pamannya ?memancing? bibinya untuk memiliki anak. Maka, baru setahun setelah Gogon tinggal bersama keluarga pamannya itu, Alllah pun menganugrahi keluarga Arup seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Bambang Sukamto Keluarga Arup bukanlah keluarga yang penuh kemewahan material. Dalam masa remajanya, selain mengaji ia pernah belajar ilmu kanuragan [2] dan belajar pencak silat yang dilakukan usai jam pelajaran sekolah. Memang dalam kehidupan masyarakat Betawi menurutnya hanya ada dua; kalau tidak pergi ke masjid atau mengaji, belajar silat. tidak ada pilihan lain. ?Ngaji? dan ?main Pukulan? dua tradisi yang ?harus? dilaluinya sebagaimana anak Betawi umumya. Sampai ia menginjak dewasa minat Gogon terhadap ilmu bela diri makin besar. Ia tak ragu menelusuri berbagai kampung di daerah Banten untuk berguru ilmu kebal. Akan tetapi setelah cukup lama mempelajari ilmu itu, Gogon pun merasakan sesuatu yag tidak beres. Ia merasa mempelajari ilmu kanuragan sia-sia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Segera saja ia meninggalkan ilmu tersebut. Kehidupan masa itu disebutnya sebagai masa ?zaman jahiliyah, belum kenal Tuhan. |
Romantika Masa Kemahasiswaan | |
| Namun, ia kemudian berubah pikiran, dalam memandang wacana politik yang selama ini dipahaminya. Ketika kantor GMNI itu sedang tutup, ia sempat ?digarap? kangan senior mahasiswa Universitas Indonesia yang mereka telah bergabung dalam aktivitas organisasi ekstra mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan ini terjadi saat masa perpeloncoan. Dari dunia kemahasiswaan di HMI ini ia mulai berkenalan dengan seniornya diantaranya Firdaus Wajdi, Eky Sahruddin, Fahmi Idris, Mar?i Muhammad, juga tokoh dan senior HMI yang rajin memberikan kursus-kursus politik yaitu almarhum Bapak Dahlan Ranuwihardjo. Dari sinilah, Gogon mengalami babak baru dalam pemahamannya terhadap Islam, teologis-ubudiah, kini meluas kepada pemahaman Islam Ideologis-amaliah al muamalah, atau istilah penulis pemahaman holistic Islam. Aktivitas di lingkungan HMI pada masa itu lebih kepada social action. Ini lebih banyak bukan didalam kampus, Gogon bergabung dengan HMI rayon Petojo, Grogol, dan Tomang (PGT). Gogon telah masuk dalam perjuangan Islam secara ideologis, ia memiliki kawan dekatnya yaitu Ridwan Saidi dan Mar?i Muhammad, para aktivis HMI dari kampus UI, dan ketiga orang ini dikenal dengan ?Trio sekawan?. Ketiganya kemudian dipercayakan duduk di kepengurusan HMI pada tingkat pengurus besar di era kepemimpinan Sulartomo. Bedanya, kawan-kawan Gogon sempat menjabat pada tingkat teras kepemimpinan, sedangkan Gogon cukup di level departemen kader, mereka kenal sejak dimasa perpeloncoan itu. "Awal mula saya belajar soal politik Indonesia dari sahabat saya Mar?i Muhammad, seorang mahasiswa, aktivis HMI keturunan Arab,? ujarnya. Darinya kemudian ia dikenalkan dengan tokoh mahasiswa tingkat nasional masa itu seperti David Napitupulu, Cosmas Batubara, Zamroni, Husni Tamrin yang dikenal kemudian sebagai tokoh mahasiswa angkatan ?66? dalam wajah pergulatan pemuda dan mahasiswa di Indonesia. Kemudian Gogon melakukan pembinaan soal kepemimpinan, keorganisasian, keislaman dan masalah politik dengan belajar banyak pada Almarhum Mas Dahlan Ranuwihardjo SH, mantan Ketua PB HMI yang sangat mumpuni dan disegani. Gogon sempat tinggal di rumah Mas Dahlan selama tiga tahun mengenai Dahlan, Gogon berkomentar: "Waktu itu Mas Dahlan memegang jabatan sebagai anggota DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong), lembaga legislatif bentukan dari mantan Presiden Soekarno. Mas Dahlan sebagai senior HMI yang banyak menularkan pengetahuannya kepada saya dan teman-teman terutama menyangkut materi ideologi, kepemimpinan dan strategi dan taktik. Saya tidak hanya menyerap ilmu dari beliau, melainkan juga membantu pekerjaan sehari-hari beliau dalam, seperti mengetik surat dari berbagai aktivitas keorganisasiannya. Akan tetapi saya dekat bukan karena soal ketertarikan pada ajaran Soekarnoismenya, yang dalam hal ini Mas Dahlan cukup banyak pengetahuan tentang hal itu." Perjalanan hidup seseorang, bukan garis linear. Ia terkadang jalan berkelok, bagai lurah (lembah) kehidupan penuh terjal dan pendakian. Kehidupan seseorang dapat pindah dari satu ruang kehidupan yang satu ke yang ruang lain dan itu kemudian membentuk karakter sejarahnya sendiri. Demikian Gogon, selain ditempa di HMI dan kampus UI Salemba, juga terbina dalam aktivisme pengajian asuhan ustadz Sobary. Ustad Mohammad Sobary, bukanlah orang yang baru dimata Gogon, sebenarnya mereka tinggal bertetangga, akan tetapi intimitas itu dimulai ketika keluarga Ustad Mohammad Sobary mengalami cobaan, istri beliau sakit, hingga kemudian dipanggil oleh Al Khalik. Dikemukakannya: Saya kagum dengan Ustad Mohammad Sobary, ia menguasai ilmu agama yang luas, hafal Al Qur?an (hafiz) dan menguasai 4 bahasa yaitu Inggris, Perancis, Belanda dan bahasa Arab. Ia pernah tinggal di London-Inggris menyelesaikan pendidikan Masternya di bidang kepustakaan. Pengetahuannya diraih sebagian besar secara otodidak. Saya banyak berguru kepadanya. Ustad Mohammad Sobary selain berpengetahuan sangat luas, sebagai kiai, kepribadiaanya juga sangat mengagumkan ia seorang dermawan, rasa solidernya tinggi terhadap siapapun termasuk Gogon. Kyai Sobari juga orang yang khusu? dalam sholatnya tidak jarang beliau menitikkan air matanya ketika sholat. Kekaguman dan kedekatan Gogon itu mengantarkannya aktif bersama-sama di organisasi Al-Irsyad. Kyai Sobary pernah menjabat sebagai Ketua Umum dan Gogon sebagai Sekretaris Umum diorganisasi tersebut, ini sekitar tahun 1980-an. Awalnya Gogon turut membina akivitas masjid sebagai ketua remaja Masjid Nurul Ala Nurin di kawasan Petojo. Di sini Gogon dan kalangan remaja lainnya selalu mengadakan kegiatan pengajian-ceramah setiap hari Jum?at dan Ahad, atau dua kali dalam satu minggu. Gogon yang telah tertempa di organisasi HMI dan organisasi kampus, mampu memainkan peran kepemimpinannya di lingkungan tempat tinggalnya melalui lembaga masjid. Di Masjid ini ia sering mengundang tokoh-tokoh Islam, kalangan ulama maupun cendiekiawan, khususya dari kalangan Masyumi seperti Bapak DR. Mohammad Natsir, Prof. DR. Hamka, Buya Sutan Mansur, Buya Malik Ahmad, DR. Mahmudin Sudin dan banyak lainnya. Sosialisasi yang intens ini semakin mendekatkan cara berfikir dan berjuang sebagaimana kalangan tokoh Islam itu. Islam bagi Gogon telah menjadi pandangan dan cita cara berjuang hidup. Perlu diketahui bahwa pada masa mahasiswa, untuk biaya kuliah Gogon berasal dari pamannya, sewaktu masih di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Masa dibangku kuliah juga telah terlibat dalam aktivitas keorganisasian mahasiswa untuk kegiatan dibidang mengelola lembaga pers Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam sebagai staf Biro kader PB HMI. Namun seperti yang di akui Gogon, Ustad Mohammad Sobary memiliki andil yang besar dalam menghadapi tantangan hidup yang dihadapinya dikemudian hari. |
