Senin, 16 Februari 2009

Dukungan Buat Bapak GOGON (DR. H. Ahmad Sumargono SE. MM).

Kami para kader PBB-10 senantiasa selalu mendukung dengan segenap kemampuan kami untuk turut memenangkan kursi DPR-RI dalam kancah PEMILU 2009 dengan mengusung calek no.1 yaitu Bapak GOGON (DR. H. Ahmad Sumargono SE. MM).

BIOGRAFI BELIAU :

Masa Kanak-kanak dan Remaja

Ahmad Sumargono ? lebih popular disebut Gogon- lahir di Jakarta, 1 Februari, 1943, dari pasangan R.Sumantri dan R.R. Sumariah [1] Sebenarnya bukan anak Betawi asli melainkan dari ?Wetan? yaitu berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, namun karena dibesarkan di lingkungan masyarakat Betawi di Petojo, Jakarta Pusat maka bukan saja gaya bicaranya ala Betawi, lebih dari itu ia sangat terpengaruh oleh kebiasaan orang Betawi. Jadi secara geneologis Jawa tetapi secara kultural ia telah di ?Betawikan.? Ia anak ke 5 dari 7 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki-laki dan 3 perempuan. Ayahnya telah wafat saat Gogon masih kecil. Dari tujuh bersaudara Gogon termasuk anak yang beruntung, karena hanya dia satu-satunya yang berkesempatan mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan menyandang gelar kesarjanaan bahkan saat ini sedang menyelesaikan tesis untuk meraih Magister Manajemen di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di usia tiga tahun, ia ditinggal wafat ayahnya, lalu dibesarkan oleh kehidupan yang penuh keprihatinan. Tak lama kemudian, ia diasuh oleh bibinya, Supartinah dan pamannya Mohammad Arup, orang Betawi di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. Arup bekerja di Departemen Keuangan dan belum memiliki anak. Allah maha mengetahui harapan hambanya ini. Hamba yang selalu berdoa memohon kehadiran seorang anak do?anya dikabulkan Tuhan. Rupanya, kehadiran Gogon dalam rumah pamannya ?memancing? bibinya untuk memiliki anak. Maka, baru setahun setelah Gogon tinggal bersama keluarga pamannya itu, Alllah pun menganugrahi keluarga Arup seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Bambang Sukamto

Keluarga Arup bukanlah keluarga yang penuh kemewahan material. Sangat sederhana. Di tengah-tengah keluarga sederhana dan jauh dari cara hidup yang hura-hura, Gogon tumbuh dan berkembang. Mengenai pengalamannya hidup bersama keluarga pamannya itu, Gogon mengungkapkan bahwa sebagai anak ?angkat? tentu secara psikologis berada posisi yang berbeda dengan misannya itu, ?mungkin? ia mesti menyadari, bagaimana memposisikan diri di tengah orang tua angkatnya itu, apalagi ayah angkatya itu, sangat ?keras? dalam mendidik anak. Saya tak punya jas,? sehingga tak pernah pergi ke pesta, ia lebih banyak mengaji di Masjid, dengan ilmu agama Islam tradisional. Gogon, mengenyam pendidikan dimulai di Sekolah Rakyat (SR) Petojo Udik, Jakarta yang diselesaikan tahun 1956, kemudian ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta AMPRI di Jakarta yang diselesaikannya tahun 1960.

Dalam masa remajanya, selain mengaji ia pernah belajar ilmu kanuragan [2] dan belajar pencak silat yang dilakukan usai jam pelajaran sekolah. Memang dalam kehidupan masyarakat Betawi menurutnya hanya ada dua; kalau tidak pergi ke masjid atau mengaji, belajar silat. tidak ada pilihan lain. ?Ngaji? dan ?main Pukulan? dua tradisi yang ?harus? dilaluinya sebagaimana anak Betawi umumya. Sampai ia menginjak dewasa minat Gogon terhadap ilmu bela diri makin besar. Ia tak ragu menelusuri berbagai kampung di daerah Banten untuk berguru ilmu kebal. Akan tetapi setelah cukup lama mempelajari ilmu itu, Gogon pun merasakan sesuatu yag tidak beres. Ia merasa mempelajari ilmu kanuragan sia-sia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Segera saja ia meninggalkan ilmu tersebut. Kehidupan masa itu disebutnya sebagai masa ?zaman jahiliyah, belum kenal Tuhan.




Gogon ingin mencari sebuah kehidupan baru yang diwarnai oleh kedekatannya kepadaTuhan. Ia berhasil menemukannya. Masa beranjak dewasa dan perantauan pemikiran dan mental membuatnya menemukan suasana kebatinan dan religius yang lebih dalam, Gogon mulai banyak merenung dan menyendiri ?mencari? makna hidup dan kehidupan yang lebih dalam dari itu. Ia pun menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMU) dari Sekolah Menengah Atas Negeri X pada tahun 1963. Waktu itu merupakan masa dimana ia mulai aktif beribadat seperti puasa Senin-Kamis, Sholat Tahajud, mengikuti pengajian yang khusus dan umum.

Di masa Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, ia mulai berkecimpung dalam dunia organisasi pemuda lokal, yaitu aktifitas pemuda antar Rukun Warga (RW) sekawasan Petojo Selatan. Ia mengkoordinir uang hasil pendapatan para penjual Koran dan majalah. Di sini, nampak naluri berorganisasi dan bisnisnya mulai muncul. Dan hal itu datang secara alami, tidak dibuat-buat. Ia pun belajar mengaji secara khusus dengan guru ngaji yang bernama Engkong Sanen. Dari sini Gogon mulai banyak ?bergaul? dengan kalangan yang usianya jauh di atasnya (para orang tua). Ia pun dipercaya untuk menjadi Imam sholat berjamaah di lingkungan tempat tinggalnya, sambil juga belajar ilmu qiroah dengan Ustad Kholili dari Banten. Ustad Kholili murid dari Kiai ternama di Banten yaitu Kiai Ma?mun. Gogon sempat di gurah semata untuk dapat membaca Al Qur?an dengan cara baca yang indah.

Pada masa ini ia mulai mengenal apa yang disebut partai politik yaitu Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Ia pun sangat mengagumi Soekarno dan Marhenismenya, dalam perspektif sejarah politik di Indonesia. Saat itu memang banyak pemuda yang terpikat dengan gaya pidato pemimpin besar revolusi Indonesia yang memukau dan penuh retorika, dan ini diakui oleh masyarakat Internasional. Sebaliknya Gogon belum banyak tahu mengenai Partai Masyumi serta tokoh-tokohnya, tidak sulit bila kita mengkaji, kenapa demikian. Hal ini disebabkan karena lingkungan sosial dan keagamaan tempat Gogon berinteraksi dan bergaul, berada di lingkungan masyarakat Jakarta yang tradisional baik dalam pandangan pemahaman agama maupun ?dunia? politik masih sangat terbatas. Apa lagi orang tua angkatnya berlatar belakang abangan dalam penerapan pemahaman agama.


Romantika Masa Kemahasiswaan

Usai Gogon menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMU), minatnya mulai berubah menjelang menjadi mahasiswa ditahun 1963. Ia sempat tertarik ajaran Marhaen, dan ia nyaris menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kalau saja kantor GMNI di Pegangsaan tidak tutup. Waktu itu mengikuti kuliah di dua Universitas dengan fakultas yang sama yaitu ekonomi. Gogon kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan Universitas Indonesia (UI) tahun 1963, dan ini dilakukan dengan pertimbangannya, karena ada kekhawatiran bila tidak diterima di perguruan tinggi negeri yang bergengsi itu ia tetap dapat berkuliah, semacam serep. Di UKI hanya sempat kuliah 1 semester, selebihnya ia mengikuti pendidikan tinggi itu di Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta sampai tamat.

Namun, ia kemudian berubah pikiran, dalam memandang wacana politik yang selama ini dipahaminya. Ketika kantor GMNI itu sedang tutup, ia sempat ?digarap? kangan senior mahasiswa Universitas Indonesia yang mereka telah bergabung dalam aktivitas organisasi ekstra mahasiswa yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan ini terjadi saat masa perpeloncoan. Dari dunia kemahasiswaan di HMI ini ia mulai berkenalan dengan seniornya diantaranya Firdaus Wajdi, Eky Sahruddin, Fahmi Idris, Mar?i Muhammad, juga tokoh dan senior HMI yang rajin memberikan kursus-kursus politik yaitu almarhum Bapak Dahlan Ranuwihardjo. Dari sinilah, Gogon mengalami babak baru dalam pemahamannya terhadap Islam, teologis-ubudiah, kini meluas kepada pemahaman Islam Ideologis-amaliah al muamalah, atau istilah penulis pemahaman holistic Islam. Aktivitas di lingkungan HMI pada masa itu lebih kepada social action. Ini lebih banyak bukan didalam kampus, Gogon bergabung dengan HMI rayon Petojo, Grogol, dan Tomang (PGT). Gogon telah masuk dalam perjuangan Islam secara ideologis, ia memiliki kawan dekatnya yaitu Ridwan Saidi dan Mar?i Muhammad, para aktivis HMI dari kampus UI, dan ketiga orang ini dikenal dengan ?Trio sekawan?. Ketiganya kemudian dipercayakan duduk di kepengurusan HMI pada tingkat pengurus besar di era kepemimpinan Sulartomo. Bedanya, kawan-kawan Gogon sempat menjabat pada tingkat teras kepemimpinan, sedangkan Gogon cukup di level departemen kader, mereka kenal sejak dimasa perpeloncoan itu.

"Awal mula saya belajar soal politik Indonesia dari sahabat saya Mar?i Muhammad, seorang mahasiswa, aktivis HMI keturunan Arab,? ujarnya. Darinya kemudian ia dikenalkan dengan tokoh mahasiswa tingkat nasional masa itu seperti David Napitupulu, Cosmas Batubara, Zamroni, Husni Tamrin yang dikenal kemudian sebagai tokoh mahasiswa angkatan ?66? dalam wajah pergulatan pemuda dan mahasiswa di Indonesia. Kemudian Gogon melakukan pembinaan soal kepemimpinan, keorganisasian, keislaman dan masalah politik dengan belajar banyak pada Almarhum Mas Dahlan Ranuwihardjo SH, mantan Ketua PB HMI yang sangat mumpuni dan disegani. Gogon sempat tinggal di rumah Mas Dahlan selama tiga tahun mengenai Dahlan, Gogon berkomentar:

"Waktu itu Mas Dahlan memegang jabatan sebagai anggota DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong), lembaga legislatif bentukan dari mantan Presiden Soekarno. Mas Dahlan sebagai senior HMI yang banyak menularkan pengetahuannya kepada saya dan teman-teman terutama menyangkut materi ideologi, kepemimpinan dan strategi dan taktik. Saya tidak hanya menyerap ilmu dari beliau, melainkan juga membantu pekerjaan sehari-hari beliau dalam, seperti mengetik surat dari berbagai aktivitas keorganisasiannya. Akan tetapi saya dekat bukan karena soal ketertarikan pada ajaran Soekarnoismenya, yang dalam hal ini Mas Dahlan cukup banyak pengetahuan tentang hal itu."

Perjalanan hidup seseorang, bukan garis linear. Ia terkadang jalan berkelok, bagai lurah (lembah) kehidupan penuh terjal dan pendakian. Kehidupan seseorang dapat pindah dari satu ruang kehidupan yang satu ke yang ruang lain dan itu kemudian membentuk karakter sejarahnya sendiri. Demikian Gogon, selain ditempa di HMI dan kampus UI Salemba, juga terbina dalam aktivisme pengajian asuhan ustadz Sobary. Ustad Mohammad Sobary, bukanlah orang yang baru dimata Gogon, sebenarnya mereka tinggal bertetangga, akan tetapi intimitas itu dimulai ketika keluarga Ustad Mohammad Sobary mengalami cobaan, istri beliau sakit, hingga kemudian dipanggil oleh Al Khalik. Dikemukakannya:

Saya kagum dengan Ustad Mohammad Sobary, ia menguasai ilmu agama yang luas, hafal Al Qur?an (hafiz) dan menguasai 4 bahasa yaitu Inggris, Perancis, Belanda dan bahasa Arab. Ia pernah tinggal di London-Inggris menyelesaikan pendidikan Masternya di bidang kepustakaan. Pengetahuannya diraih sebagian besar secara otodidak. Saya banyak berguru kepadanya.

Ustad Mohammad Sobary selain berpengetahuan sangat luas, sebagai kiai, kepribadiaanya juga sangat mengagumkan ia seorang dermawan, rasa solidernya tinggi terhadap siapapun termasuk Gogon. Kyai Sobari juga orang yang khusu? dalam sholatnya tidak jarang beliau menitikkan air matanya ketika sholat. Kekaguman dan kedekatan Gogon itu mengantarkannya aktif bersama-sama di organisasi Al-Irsyad. Kyai Sobary pernah menjabat sebagai Ketua Umum dan Gogon sebagai Sekretaris Umum diorganisasi tersebut, ini sekitar tahun 1980-an.

Awalnya Gogon turut membina akivitas masjid sebagai ketua remaja Masjid Nurul Ala Nurin di kawasan Petojo. Di sini Gogon dan kalangan remaja lainnya selalu mengadakan kegiatan pengajian-ceramah setiap hari Jum?at dan Ahad, atau dua kali dalam satu minggu. Gogon yang telah tertempa di organisasi HMI dan organisasi kampus, mampu memainkan peran kepemimpinannya di lingkungan tempat tinggalnya melalui lembaga masjid. Di Masjid ini ia sering mengundang tokoh-tokoh Islam, kalangan ulama maupun cendiekiawan, khususya dari kalangan Masyumi seperti Bapak DR. Mohammad Natsir, Prof. DR. Hamka, Buya Sutan Mansur, Buya Malik Ahmad, DR. Mahmudin Sudin dan banyak lainnya. Sosialisasi yang intens ini semakin mendekatkan cara berfikir dan berjuang sebagaimana kalangan tokoh Islam itu. Islam bagi Gogon telah menjadi pandangan dan cita cara berjuang hidup.

Perlu diketahui bahwa pada masa mahasiswa, untuk biaya kuliah Gogon berasal dari pamannya, sewaktu masih di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Masa dibangku kuliah juga telah terlibat dalam aktivitas keorganisasian mahasiswa untuk kegiatan dibidang mengelola lembaga pers Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan aktif di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam sebagai staf Biro kader PB HMI. Namun seperti yang di akui Gogon, Ustad Mohammad Sobary memiliki andil yang besar dalam menghadapi tantangan hidup yang dihadapinya dikemudian hari.


Tidak ada komentar: